Lupa Bila Wuhan

Lupa Bila Wuhan
Foto/Istimewa
Lupa Bila Wuhan

LUPA BILA WUHAN

Rambut gimbal keangkuhan kita
benar-benar dijambak
wajah kita dibanting keras ke tanah

Bumi dimakan pandemi
bumi belingsatan ke dalam gelap
terkapar sepi

Mungkin karena lama kita 
tidak benar-benar menunduk
menemukan semerbak

Selama ini kita cium tanah
yang tercium sampah
Kita cium tanah
yang tercium uang berlimpah
Kita cium tanah
yang tercium rumah megah
Kita cium tanah
yang tercium mobil mewah 
Kita cium tanah
yang tercium kelamin-kelamin
Kita cium tanah
yang tercium kursi tinggi
Kita cium tanah
yang tercium samangat menang sendiri

Rambut gimbal keangkuhan kita
dijambak
wajah dibanting-banting ke tanah
Hati kita telah terguling-guling dalam beling, berdarah-darah
tapi kepala tidak

Mata kita 
masih menatap tajam ke sana
"Wuhan...!
Mengapa kau keterlaluan?
Bikin mengerut wajah dunia
digerus korona"
teriak kita
lupa

Lupa bila wuhan juga kita
lupa

Lupa bila wuhan dibangun dan dirayakan di mana-mana
lupa

Lupa bila wuhan juga semarak dalam darah kita
lupa

Lupa bila kita juga makan apa saja
lupa

Lupa bahwa kita berlebihan juga
lupa

Disuruh makan yang dibolehkan
kita makan berak dan kencing atasan
Disuruh makan yang dibolehkan
kita minum keruh air mata dan keringat bawahan
Disuruh makan yang dibolehkan
kita tenggak tangis anak yatim dan fakir-miskin
Disuruh makan yang dibolehkan
kita makan perasaan orang dengan mulut kemewahan yang dipamerkan
Disuruh makan yang dibolehkan
kita makan berahi orang dengan mulut aurat yang dipertontonkan
Disuruh makan yang dibolehkan
kita makan bangkai-bangkai saudara dengan mulut fitnah yang dibiakkan

Rambut gimbal kebebalan kita
dijambak-jambak
wajah kita dibanting-banting ke tanah
Kita berlari
dikejar wabah kencing dan berak atasan
Kita berlari
dikejar banjir air mata dan keringat bawahan
Kita berlari
dikejar halilintar jeritan anak yatim fakir miskin
Kita berlari
dikejar gemuruh perasaan yang tersayat-sayat
Kita berlari
dikejar gelombang berahi tak terkendali
Kita berlari
dikejar mayat-mayat saudara sendiri
Kita berlari
terus berlari
ke dalam rumah-rumah rapuh
mencari kunci
tempat berlindung diri

Sedang mata kita
masih nyalang ke Wuhan
"Mengapa kau keterlaluan?"

-------------

Zainul Walid

Sukorejo Situbondo, 3 April 2020

 

 

Penyair: Zainul Walid
Lahir di Jaddung, Pragaan, Sumenep, 10 Mei 1972. Pernah nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, 1986-1989. Kemudian di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Situbondo, 1989-sekarang. Kini menjadi pelayan santri, guru MI dan SMP Ibrahimy di Pondok Sukorejo yang pernah diasuh Kiai As'ad (tokoh NU sekaligus Pahlawan Nasional) itu. Aktif dalam bermacam kesenian pesantren: Sanggar Seni Sastra (1991-1996), Sanggar Seni Ikra (1997-2000), Teater Air (2001-2004), Sanggar Seni Cermin (2005-sekarang), pendiri Sekolah Deklamasi, dll. Menulis puisi sejak SLTA. Salah satu buku puisi yang telah diterbitkan: Sebulan di Pesucen (pribadi), Inilah Dadaku (pribadi), Ibu (pribadi), Kasidah Air Mata (Pustaka Radja).