Masa Pandemi Covid-19, Pacu Semangat untuk Terus Berkarya

Masa Pandemi Covid-19, Pacu Semangat untuk Terus Berkarya
SEMANGAT: Zaini mengejar target waktu perampungan buku bahan ajar yang dikerjakannya (Foto/Hayat -Sinergi Madura)

SIKERIS, Sinergi Madura - Imbauan pemerintah agar 'stay at home' dan 'work from home' mendapat tanggapan yang beragam dari masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Sebagian mengatakan, bahwa kebijakan itu 'enak padamu dan mencekik kehidupanku'. Mereka yang mengatakan demikian mayoritas adalah masyarakat golongan menengah ke bawah, seperti nelayan dan pedagang. Sebagian yang lain berujar agar pemerintah tidak ragu untuk mengambil langkah tegas karena penyebaran wabah ini mereka tengarai sebagai konspirasi dunia; mereka setuju jika pemerintah menerapkan kebijakan lockdown demi cepat memutus rantai Covid-19 ini. Sebagian yang lain menilai, apa yang telah berjalan selama ini sudah baik dan efektif.

Menanggapi berbagai pendapat yang beragam tentang langkah-langkah teknis itu, Zaini, salah seorang pemerhati muda Bahasa Madura yang kini aktif sebagai ketua Komunitas Abdhi Dhâlem Sumenep ini lebih memilih ikut apa yang dianjurkan pemerintah. Menurutnya, imbauan tersebut sebenarnya justru dapat dijadikan kesempatan untuk mengasah kreatifitas agar terus berkarya.

 

BACA SIKERIS

 

Pemilik akun Facebook 'Zaini Anugerah' ini mengutarakan, sejak ditetapkannya Corona Virus Disease 2019 atau Sars-Cov19 sebagai pandemi non alam berskala nasional oleh Presiden Joko Widodo, semangatnya untuk bekerja di rumah menjadi semakin terpantik dan lebih leluasa.

"Bagi saya, imbauan itu justru jadi kesempatan untuk ada bersama keluarga, sambilalu berpikir, bagaimana keleluasaan ini bisa kita usahakan agar lebih berharga dari hari sebelumnya. Ini ujian, tapi sekaligus tantangan buat kita," ucapnya kepada Sinergi Madura saat dijumpai di kediamannya, di Desa Kebunan Kecamatan Kota Sumenep Madura Jawa Timur, Minggu (19/4/2020).

Pria lulusan PBSI pada pascasarjana UM Surabaya ini adalah salah satu tenaga pendidik yang fokus mengampu materi Bahasa Daerah di MTs Negeri 1 Tarate dan Bahasa Indonesia di Universitas Wiraraja (Unija), Sumenep, Madura.

"Aktifitas sebelum Covid-19 ini, selain aktif mengabdi, berbagi ilmu dan wawasan kepada siswa dan mahasiswa, saya juga mengelola akun youtube Jendela Madura," jelas ayah dari 3 putra ini.

 

BACA JUGA

 

Sebelum menjadi tenaga pendidik di dua lembaga di atas, Zaini sempat mengajar di Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Santo Yusup yang berlokasi di sebelah barat Pasar Anom Sumenep selama 17 tahun (2002-2019), kemudian juga di STAIM Al-Usmuni Tarate.

Selain itu, bebernya lebih lanjut, dirinya juga aktif sebagai ketua sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan. "Komunitas Berbagi Jejak, KBJ Sumenep," sebutnya.

Setiap kali donasi bantuan untuk para kaum duafa, dia bersama teman-temannya di KBJ bersama-sama mendatangi setiap rumah yang berhak mendapat bantuan.

"Kita datangi satu per satu, seperti anak yatim, nenek jompo, dan mereka-mereka yang layak mendapatkan santunan," katanya.

Tapi setelah virus korona ini ditetapkan sebagai pandemi non alam berskala nasional, ujarnya, rutinitas itu terpaksa harus ditunda sementara. "Semua aktifitas itu saya vakumkan, sesuai instruksi dari pemerintah, agar diam di rumah, sampai pandemi ini benar-benar berakhir," ucapnya penuh harap.

Adapun kewajiban mengajar, ungkap dia, tetap ia tunaikan pada pagi hari hingga menjelang siang melalui aplikasi online yang telah disediakan dan disepakati oleh lembaga tempat dia mengajar. Setelah itu, baru kemudian dia ajak putra-putrinya bermain, sesekali iseng membuat film pendek.

Pada sore dan malam hari, waktu yang Zaini miliki ia manfaatkan untuk menyusun pembelajaran Bahasa Madura yang ia terima sebagai kontrak dari salah penerbit ternama di Indonesia.

"Alhamdulillah, ternyata benar apa kata pepatah bijak: 'tekuni satu profesi, maka profesi itu akan membiayaimu esok hari', itu benar kurasakan saat ini," sebutnya.

"Ternyata rezeki itu tidak kemana. Aktifitas menulis buku ajar ini masih bisa diharapkan. Ini yang sedang saya kerjakan (adalah) menyusun buku ajar tingkat SD Kelas III," ungkapnya menambahkan.

Zaini mulai aktif menekuni dunia tulis-menulis, utamanya tulisan berbahasa Madura, sejak tahun 2011. Ia bersyukur karena saat ini dirinya dipercaya menjadi editor penyusunan buku pembelajaran bahasa daerah (Madura) tingkat SD Kelas VI dan SMP.

Di sela-sela waktu, jika tidak ada beban mengajar, pagi hari ia menfaatkan untuk berolahraga menyusuri setapak jalan pematang sawah, hirup udara segar (Foto/Hayat -Sinergi Madura)

 

Tidak hanya itu, pemerhati muda Bahasa Madura kelahiran tahun 1983 ini juga sering terlibat sebagai tim monitoring dan evaluasi serta sebagai penyusun kurikulum pembelajaran bahasa daerah tingkat Jawa Timur.

"Youtube itu saya kira sampingan aja, toh youtube sebenarnya juga salah satu media untuk bisa berbagi lewat dunia maya," ujar pria asal Desa Banjar Barat Gapura ini.

Dia mengatakan, untuk mendapat penghasilan dari dunia youtube membutuhkan waktu yang tidak sebentar. "Seperti namanya, 'dunia maya',  itu masih dunia angan, dunia mimpi; bisa iya (mendapatkan royalti, red), dan bisa tidak," imbuhnya.

Oleh sebab itu, jika ada waktu luas, ia lebih memilih kerja menulis daripada berbagi lewat youtube. Kerja menulis menurutnya lebih realistis daripada mengisi channel youtube. Karena untuk mendapatkan royalti, kata Zaini, harus memenuhi target viewer dan suscriber.

"Kalau kerja menulis dan editor itu sudah pasti, pasti dapat langsung kita terima (upahnya, red), dan itu pun tidak hanya terima satu kali," terang alumni Ponpes Nasy'atul Muta'allimin Gapura ini.

Setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali, dirinya dapat dipastikan menerima royalti dari penerbit yang bersangkutan, sesuai jumlah buku yang terjual.


Penulis: Hayat
Editor: Mazdon