Menemukan Kebenaran dalam Bising

Menemukan Kebenaran dalam Bising
Ketua Banggar DPR RI MH Said Abdullah (Foto/Dok. Sinergi Madura)
Menemukan Kebenaran dalam Bising

Oleh: MH Said Abdullah

“Kita seharusnya tidak malu untuk mengakui kebenaran, dan menerimanya dari sumber manapun yang datang kepada kita, sekalipun dibawa kepada kita oleh generasi-generasi sebelumnya, dan orang asing. Bagi orang yang berusaha menemukan kebenaran itu sendiri, ia tak pernah merendahkan atau melecehkan orang yang mencapainya, namun justru memuliakan dan menjadikannya terhormat.”

Secuil paragraf di atas disampaikan oleh filosof besar abad 7 masehi bernama Abu Yusuf bin Ishaq bin Ash Shabah bin Imran bin Asy’ats bin Qais Al-Kindi, atau yang populer dipanggil Al-Kindi. Selain terkenal sebagai ahli filsafat, ia tersohor sebagai ahli kimia, musik, astronom, dokter, dan menguasai geografi. 

Kutipan Al-Kindi hendak saya letakkan dalam suasana kebangsaan kita saat ini. Kapal kebangsaan kita penuh keributan, keributan bermula dari kebisingan berbagai suara saat pandemi korona melanda. Ada banyak yang riuh disuarakan, cacian sekaligus dukungan terhadap pemerintah berpacu dinamis melalui media dan media sosial. Memang begitulah demokrasi yang masih orok. 

Namun tidak perlu risau dan khawatir, meski demokrasi masih orok, harapan bertumpu pada kematangan para pemimpin negeri. Tantangan para pemimpin adalah memilah sekaligus memilih suara-suara kebenaran, dari manapun datangnya.

Untuk menemukan kebenaran itu para pemimpin tidak cukup duduk di singgasana emas. Ia harus bersedia melebur dalam hiruk-pikuk suara-suara bising tadi. Tapi pada kesempatan yang lain, ia bisa “mengasingkan” pikirannya agar jernih dalam mengambil kebijakan.

Khalifah Umar Bin Khattab pernah menghadapi situasi yang sekarang kita hadapi. Saat hendak perjalanan penting ke Syam. Di tengah perjalanan, Khalifah Umar mendengar Syam sedang dilanda wabah. Sang Khalifah meminta saran kepada para sahabatnya. Terjadi perbedaan pendapat, sebagian menghendaki perjalanan tetap diteruskan, sebagian menghendaki balik ke Madina. Kaum anshar dan kaum muhajirin punya pendapat masing masing.

Di tengah pelik dalam memilih keputusan yang tepat, Umar bin Khattab bermunajat, membeningkan hati dan pikirannya, sampai ada masukan dari seorang sahabat bernama Abdurahman bin Auf yang pernah mendengar sabda Nabi Muhammad; “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak menyelamatkan diri.”

Atas penyampaian Abdurahman bin Auf, Khalifah Umar memutuskan rombongan kembali ke Madinah, dan mengirimkan para tabib dan bahan makanan ke Syam untuk membantu memulihkan negeri Syam yang dirundung wabah. Sebenarnya konsep karantina (lockdown) sudah ada sejak lama.

Kita berharap para pemimpin segera mengambil keputusan yang tepat. Membukalah diri untuk menemukan kebenaran itu, sekalipun permata diletakkan di dubur ayam, tetaplah permata, kedudukannya tidak akan turun serendah dubur ayam. Dengan begitu, rakyat segera merasakan negara hadir. *)