NGEYELAN

NGEYELAN
Foto ilustrasi mudik/Istimewa

Oleh: Raedu Basha *)

Satu hal yang membuat saya tak mampu berkutik di tengah usaha menjauhi pandemi semacam ini, hidup di desa dan masih dituntut (menghadiri undangan) ke mana-mana karena alasan adat istiadat (tengka).

Hari ini di kotaku, per tanggal 9 April 2020, telah tercatat sebanyak 19.005 Orang tanpa Gejala (OTG, kemarin bernama ODR). Tetangga-tetanggaku yang perantau sudah banyak mudik. Alasan mereka, bukan karena khawatir terjangkit korona di rantau, melainkan karena ekonomi mereka loyo akibat pelanggannya mudik dan swakarantina, bahkan bisnisnya di rantau tiarap sejak wabah melanda.

Kebanyakan tetanggaku jadi pengusaha toko-toko kelontong, cukur rambut, sebagiannya mahasiswa dan santri. Untuk yang mahasiswa dan santri punya alasan sendiri, kuliah jauh, atau karena liburan pesantren dijadwalkan lebih awal.

Rata-rata pemudik pulang basah kuyup karena disemprot obat disinfeksi di pintu masuk kabupaten. Beberapa pemudik yang demam/batuk/flu, mereka tertahan di Kota, dikarantina oleh tim medis, sebagian lagi swakarantina di rumah sendiri. Namun, di antara pemudik banyak juga yang lolos dari cek kesehatan. Kabarnya, oknum mahasiswa pun tidak patuh dan “loncat pagar” dari cek medis.

Saya cukup salut pada tim medis dan polisi yang siaga dengan ambulan untuk “mencyduk” mereka yang lolos dari cek kesehatan. Maka tak mengherankan bila hari-hari ini banyak ambulan masuk desa-desa mengangkut pemudik nakal cek kesehatan.

Terus terang, di kampung saya ini masih banyak orang menggelar bermacam pertemuan; tahlilan, isra mikraj, pengajian, hingga pesta pernikahan. Tanpa menghiraukan ancaman pandemi. Di kecamatan sebelah, banyak pesta pernikahan digeruduk polisi.

“Mati sudah ketentuan Allah. Kalau sudah takdirnya mati ketabrak truk, tidak akan mati karena sakit korona,” ujar Matsa’e (nama samaran) ke saya. 

Bukan hanya Matsa’e. Matsuli, Mattasan, Mattongkel, Matkahar, dan Mat-Mat lainnya mengatakan perihal yang sama: bahwa mereka tidak takut korona, mereka takut hanya kepada Allah semata—alias mereka lebih takut kelaparan daripada takut mati?

Saya orangnya senang bercanda dengan tetangga. “Kalau kamu gak kerja? Bakalan gak makan? lalu kelaparan? Lalu?” tanya saya.

“Kalau saya kelaparan, saya akan mati,” jawab Matsa’e.

“Kan ujung-ujungnya sama. Sama-sama takut mati!”

“Tapi saya bukan mati karena korona. Bisa mati karena kelaparan,” jawab Matsa’e. Ngeyelnya muncul. Sifat asli warga negara Indonesia murni muncul dengan nyata.

“Kata siapa kamu tahu bakalan mati kayak begitu?” usut saya.

Dia tercenung. Tak lama dia menjawab: “Pokoknya saya mati bukan karena korona. Saya kerja biar bisa makan, biar saya hidup, keluarga saya juga bisa hidup.”

“Kalau di tempat kerja atau berkumpul, kamu kena korona? lalu kamu pikir setelah itu keluargamu akan baik-baik saja?” Sekarang saya memukul telak. “Sekarep kamu! Cuma diminta diam di rumah 14 hari susahnyaaaaa...”

Nalar awam. Saya suka orang awam terutama kengeyelannya bicara. Gemes tapi menyebalkan. Saya senang menemani mereka tanpa harus mengeluarkan ayat, hadis, ataupun fatwa. Mendoktrin dengan cara pengajian—menurut saya—tidak akan memberi edukasi dengan sentuhan langsung semacam ini. Namun yang saya inginkan, mengajak mereka waras berpikir, itu menyehatkan akal mereka.

Sekarang saya punya kesimpulan: Orang kampung saya ini gengsinya gede-gedean. Demi nama baiknya sendiri, mereka berani rugi. Demi ingin disebut sehat terus, kerja terus. Korona hanya di Cina, pikir mereka. Dan yang lebih menyedihkan, pelajar-pelajar universitas pulang kampung tidak cek kesehatan. Kriminal.

Tahukah Anda? Kemarin ada pesta pernikahan didatangi sekompi polisi, lalu tuan rumahnya teriak ke polisi:

“Anda semua boleh memborgol dan memenjarakan saya, asalkan setelah acara ini selesai, maka jangan halangi pesta kami berlangsung, Pak!”

Memang di kabupaten saya PDP dan positif korona masih dinyatakan nol, masih zona hijau. Entah, kadang saya masih ragu informasi itu sebenarnya, atau sangat sebenarnya.

Dalam hari-hari ini saya masih banyak menerima undangan ke tetangga desa-desa, maupun kecamatan sini dan sana. Sedangkan posisi saya berada pada ”tidak boleh tidak” dalam menghadapi orang-orang yang masih ngeyel menggelar acara pertemuan. Misalkan, saya diminta mengakadnikahkan, memimpin tahlilan, yang mana harus saya, tak mau orang lain.

Setidaknya, dalam rasa was-was dan kewaspadaan ini, saya senang, karena saya bisa sekalian melakukan penelitian mengenai studi perilaku ngeyelan orang kampung saya sendiri sebagai cerminan karakter ngeyel penduduk Indonesia. Dan di sinilah, saya menganggap laku ini sebagai kerja Antropologi. 

Demikianlah diari monyet ini.


*) Penulis adalah sastrawan dan antropolog kelahiran 1988. Penulis yang kerap meraih sejumlah penghargaan tingkat nasional ini kini mengabdi di Ponpes Darussalam, Bilapora Timur, Ganding, Sumenep. Antologi puisi tunggal karyanya antara lain "Matapangara", Hadrah Kiai, dan lainnya. Buku terbarunya yang telah terbit berjudul "Sastrawan Santri: Etnografi Sastra Pesantren".