PEREMPUAN TANDAK

PEREMPUAN TANDAK
Foto ilustrasi oleh Febri Achmad Faraid - Sinergi Madura

eorang lelaki muda dengan ikat kepala hitam melangkah ke atas panggung, menghampiriku yang sedang menari. Musik gamelan yang dimainkan kesatuan grup tersohor dari Tang-Batang mengiringi gerakan tubuhku. Tanganku lihai memainkan penjung [1], melambai-lambaikannya ke udara.

Sebagai seorang tandak [2], aku harus menuruti kemauan lelaki muda itu yang memintaku lebih dekat dengannya. Lagi pula, aku memang diundang oleh Madrusin, lelaki bajing yang sedang menggelar pesta pernikahan anak perempuan satu-satunya itu. Semakin kugoyang pinggulku, kulihat lelaki muda itu semakin liar menatapku.

Seluruh tamu yang kebanyakan dari kalangan bajing melihatku penuh gairah. Lelaki muda itu mengenalkan diri padaku, ia berbisik lirih di telingaku, mengatakan, bahwa ia adalah Arsap. Aku kaget setelah dia kembali mengatakan jika ia adalah keponakan dari Madrusin, tuan rumah yang mengundangku.

Mendengar penjelasan dari Arsap, kulemparkan senyum kepada lelaki muda itu. Perkiraanku, usia Arsap sekitar tiga puluh satu tahun. Aku heran, kenapa Arsap sangat menyukai tandak sepertiku? Apakah ia juga sudah menjadi bajing seperti pamannya? Pikiranku berpikir macam-macam saat menari bersama Arsap.

Pantas saja, pikirku. Tak ada seorang bajing pun di bawah panggung yang mau naik menemani-ku. Itu semua lantaran Arsap masih bersamaku. Para bajing itu tahu siapa Arsap; seorang lelaki muda yang masih keponakan dari Madrusin. Siapapun mengenal watak Madrusin.  Ia dikenal sakti dan memiliki wibawa di kalangan para bajing. Madrusin menjadi satu-satunya bajing yang disegani di kalangan semua bajing.

Ingin sekali para bajing itu menari di dekatku, menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuhku. Tapi Arsap menghalangi keinginan mereka. Sebelum naik ke atas panggung, Arsap memang mengatakan, tak boleh ada yang mengganggunya ketika sedang menari bersamaku. Para bajing itu khawatir Madrusin akan membela keponakannya kalau sampai mereka melanggar ucapan Arsap.

Kulihat para bajing itu mulai menegang urat gairahnya. Bulan mengintip dari balik pohon siwalan. Angin mati sejak beberapa jam yang lalu. Gerah membuatku membuka kancing baju. Terlihat sedikit lekukan di dadaku. Arsap tak sanggup menahan debar-debar nafsu dalam dadanya. Tangannya mulai nakal memegang tubuhku yang terlihat seksi.

Arsap memegang dua buah khuldi yang tumbuh subur di dadaku. Tiba-tiba saja ia memelukku erat. Aku tak bisa melepas dekapan tubuhnya yang melekat kuat, menempel bagai perangko. Bibir Arsap dekat sekali di telingaku, desah napasnya terdengar mendesah. Kemudian ia berbisik padaku, mengatakan dengan nada lirih jika ia mencintaiku sejak pertama kali melihatku di sebuah acara pernikahan beberapa tahun lalu.

Tidak, kukatakan padanya. Aku adalah seorang perempuan tandak. Lagi pula, aku seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Selain itu, aku menanggung hidup satu orang anak yang masih berusia sepuluh tahun. Tidak mungkin ia mencintaiku. Itu bukan cinta. Kukatakan dengan tegas, itu nafsu semata.

Bukan karena aku seorang tandak, lantas diperlakukan layaknya senok [3]. Satu hal yang harus diketahui bahwa tandak itu pekerja seni. Aku menari  sewajarnya saja. Siapa pun yang kurang ajar padaku, itu sama artinya merendahkan seorang tandak, lebih-lebih merendahkan martabat perempuan.

Akhirnya aku berhasil melepas pelukan Arsap. Tanpa bisa kubendung, jatuh air mataku di depan lelaki muda itu. Aku berlari ke belakang panggung. Arsap mengejarku dari belakang. Suara musik gamelan berhenti. Terlihat tegang wajah para bajing. Mereka tak berani ikut campur urusanku dengan Arsap. Mereka memilih diam, menungguku kembali menari di atas panggung.

Tidak mungkin aku menari lagi. Sakit hatiku dilecehkan oleh Arsap. Aku menjadi tandak karena menanggung hidup anak semata wayang. Keributan terjadi di belakang panggung. Aku memaksa pulang. Arsap melarangku. Ia memegang pergelangan tanganku. Kucoba lepas, tapi kuat sekali genggaman lelaki muda itu.

Arsap kaget dan melepas tanganku saat melihat pamannya berdiri dengan wajah mengeluarkan api. Kulihat di balik pinggangnya terselip sebilah celurit. Madrusin menampar Arsap di depanku. Menunduk wajah Arsap, tak berani melihat mata pamannya yang menyemburkan api.

Dengan bibir terluka, Arsap minta maaf pada pamannya. Ia juga mengatakan, hatinya terpikat padaku. Secara terang-terangan Arsap menegaskan kalau ia ingin menjadikanku istrinya. Deg! Jantungku seperti akan lepas dari tangkainya mendengar ucapan Arsap. Tidak mungkin, pikirku.

Meskipun seorang janda, kudengar orang-orang sering mengatakan kalau kecantikanku tak pernah tergerus oleh usia. Tubuhku pun dibilang masih seperti anak gadis. Mungkin itu juga yang membuatku lebih laris diundang orang dibanding teman-temanku sesama tandak. Aku sendiri tidak pernah memakai senasren [4], kubiarkan wajahku apa adanya, hanya ditaburi bedak plastik yang kubeli di warung depan rumah.

Lelaki yang dikenal bajing paling sakti di kampung Totosan itu menyuruh Arsap minta maaf padaku. Kuusap air mataku. Arsap melihatku. Ia bersujud di bawah kakiku. Sebagai seorang perempuan berhati lembut, kuangkat tubuh Arsap dan kumaafkan dia dengan catatan tak akan mengulangi sikap kurang ajarnya itu.

Kukatakan padanya agar Arsap menghargai perempuan yang berprofesi apapun. Ia mangangguk menyesal. Madrusin merangkul keponakannya. Ia juga memintaku untuk melanjutkan tarianku. Belum ada satu tamu yang pulang. Semuanya menungguku di depan panggung. Justru semakin malam, kawan-kawan Madrusin semakin banyak berdatangan.

Belum selesai aku merapikan sampir batik bermotif kipas yang kukenakan, tiba-tiba saja Arsap berujar tentang keinginannya yang tetap mengharapkanku sebagai istrinya. Aku menelan ludah. Rupanya, lelaki muda itu benar-benar jatuh cinta padaku. Madrusin memandang ponakannya dengan mengerutkan kening seperti garis terombang-ambing.

Keseriusan Arsap itu dibuktikan dengan mengatakan jika ia tidak mempersoalkan statusku sebagai janda, juga pekerjaanku sebagai seorang tandak. Ia bahkan akan menyayangi anakku seperti anak sendiri. Kulihat Madrusin menarik napas panjang. Ia membenarkan posisi celurit di balik punggungnya.

Dengan nada  tinggi Madrusin tidak menyetujui keinginan ponakannya menikahiku. Apa karena aku perempuan tandak? Arsap memandang wajah pamannya. Ia mengira pamannya akan setuju, sebab selama ini Madrusin kerap menyuruh ponakannya tersebut agar segera menikah.

Ketidaksetujuan Madrusin bukan tak beralasan. Ia mengungkapkan alasan itu. Arsap dibuat terkejut dengan alasan pamannya. Madrusin diam-diam menaruh cinta padaku. Ia ingin menjadikanku istrinya yang ketiga. Madrusin mengatakan padaku, dua istrinya sudah setuju jika ia menambah satu istri lagi.

Arsap yang sejak semula memilih tunduk pada pamannya, kini ia memiliki nyali besar untuk melawan Madrusin. Ia tidak peduli dengan ancaman pamannya. Arsap akan dihabisi jika sampai ngotot menikahiku. Hanya Madrusin satu-satunya lelaki yang boleh menikahiku. Hanya Arsap satu-satunya lelaki yang boleh menikahiku. Kedunya sama-sama bersikeras dengan keinginannya masing-masing.

Celurit di balik punggung Madrusin dicabutnya, ia acungkan ke udara. Aku bergidik. Tak boleh ada darah tumpah hanya karena memperebutkanku. Madrusin melihat wajah ponakannya, menegaskan siapa yang hidup, dia yang akan menjadi suamiku. Tidak mungkin Arsap menang melawan Madrusin, selain ia lelaki bajing, ia juga memegang celurit. Sementara Arsap tak memegang celurit untuk menerima tantangan dari pamannya.

Sebagai seorang bajing, Madrusin tentu tidak ingin melawan keponakannya yang tak bersenjata apapun. Ia menyuruh ponakannya pulang mengambil celurit, semata-mata agar pertarungan berjalan secara kesatria. Begitulah sikap bajing sesungguhnya, kata Madrusin. Arsap mengangguk menandakan siap meladeni tantangan pamannya sendiri, sebab menolaknya sama artinya merendahkan martabat sendiri sebagai lelaki di hadapan pamannya.

Belum sempat Arsap melangkah untuk pulang, aku merebut celurit yang dipegang Madrusin. Kukalungkan celurit itu di leherku. Aku mengancam tidak main-main. Buktinya celurit itu melukai kulitku. Darahnya merembes di leherku. Kukatakan pada mereka, aku tidak mau menikah dengan siapapun dan sampai kapanpun. Aku akan tetap menjadi tandak sampai ajal menjemput. Cintaku hanya pada almarhum suamiku dan anak semata wayangku. Kulihat keduanya menelan ludah. Kulempar celurit itu, kusuruh mereka pergi.

Pulau Garam, 2019/2020


Keterangan:
[1] Penjung: selendang tari
[2] Tandak: penari
[3] Senok: pelacur
[4] Senasren: semacam mantra yang bisa membuat wajah seseorang terlihat lebih cantik dan mantra tersebut biasanya ditiupkan pada bedak

Zainul Muttaqin
Lahir di Sumenep, 18 November 1991. Kini tinggal di Pamekasan Madura. Cerpen-cerpennya dimuat pelbagai media nasional dan lokal. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit: Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, 2019).