Prediksi Covid-19 dalam The Eyes of Darkness?

Resensi Buku Karya Dean Koontz oleh Bernando J. Sudjibto

Prediksi Covid-19 dalam The Eyes of Darkness?
Dean Koontz and The Eyes of Darkness (Foto/Istimewa)
Prediksi Covid-19 dalam The Eyes of Darkness?

Oleh: Bernando J. Sudjibto *)

Saya baru mendengar nama Dean Koontz (lahir 1945), atau mungkin sebagian besar penduduk bumi ini (selain tentu saja publik Amerika yang suka membaca cerita-cerita populer berupa romansa, thriller dan fiksi ilmiah). Bisa dimaklumi, karena nama di atas jarang dipakai untuk ratusan novel yang ditulisnya. 

Koontz kerap bergonta-ganti nama, di antaranya  David Axton, Deanna Dwyer, K.R. Dwyer, Leigh Nichols, Brian Coffey, dll. Dalam statistik penjualan buku-bukunya, dia termasuk penulis Amerika bestseller seperti Stephen King dan John Grisham. Artinya, buku-bukunya sudah terjual di atas 400 juta kopi dan masuk dalam daftar buku terlaris The New York Times.

Kali ini saya akan membahas novel 'The Eyes of Darkness' yang waktu terbit tahun 1981 atas nama penulis Leigh Nichols. Saya tertarik membacanya karena novel ini sempat viral di tengah pandemi virus corona atawa Covid-19, dengan dibumbui teori konspirasi di sana sini, juga dilumuri hoax tentu saja. Di tengah karantina-diri, sembari memandu kelas daring bersama mahasiswa, saya membacanya untuk mengubur rasa waswas dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap wabah Covid-19. 

Judul The Eyes of Darkness diambil dari sebuah frasa di dalamnya ("It's as if ... the night itself is watching us ... the night, the shadows, the eyes of darkness.") yang sama sekali tidak memberikan gambaran khusus tentang isi novel, selain tentu saja “keseraman” mengingat thriller sudah disampirkan untuk novel ini. Dalam pembacaan maraton selama sekitar 8 jam untuk novel setebal 369 ini (baca versi PDF gratisan), saya terbayang-bayang dengan kekuatan judul, tetapi rasa penasaran itu tidak terakomodir hingga akhir cerita.

Saya menyelesaikan membaca novel ini tanpa tahu siapa Koontz. Tapi sudah terasa dengan kuat bahwa, di bidangnya, dia adalah penulis handal. Kocokan unsur-unsur thriller dengan nuansa ketegangan, sarkasme, romantika, supranatural, dan sedikit humor sudah terasa berkelas. Balutan kisah dalam kemasan per bab terjalin seperti film-film Hollywood. Jika novel ini difilmkan, saya yakin akan sukses--apalagi di tengah momentum pandemi begini.

Saya menyukai candaan kelam sebagai "Joking in the midst of disaster" atau cuplikan dari komedian Groucho Marx: "Laughter is a balm for the afflicted, the best defense against despair, the only medicine for melancholy." 

Suspense yang dibikin Koontz cukup intens meski di beberapa hal terlihat cenderung dibuat-buat. Selain itu, ada sadisme yang digambarkan secara brutal ketika mengkarakterkan sosok Alexander, "a messenger of death: he enjoyed killing... Murder was, in many ways, more thrilling to him than sex."

Novel ini dibuka dengan kalimat menarik:

"At six minutes past midnight, Tuesday morning, on the way home from a late rehearsal of her new stage show, Tina Evans saw her son, Danny, in a stranger's car. But Danny had been dead more than a year."

Sudah menghentak sejak awal, khas trhiller. Ia bercerita tentang sebuah keluarga yang sudah bercerai (Christina Evans dan Michael Evans) dan kehilangan anaknya (Danny Evans) dalam sebuah acara liburan berupa kamping di gunung bersalju, di Reno, Sierra, Nevada. Danny dititipkan untuk berlibur oleh kedua orang tuanya kepada pembina kamping profesional bersama anak-anak lainnya.

Tina digambarkan sebagai sosok yang independen, dari mulai bekerja sebagai pemain teater hingga menjadi asisten produser di Las Vegas. Sejak pengalaman "magis" melihat Danny, seperti dalam pembukaan novel, hari-hari Tina selalu dihantui oleh mimpi dan bahkan seperti halusinasi dengan didatangi bisikan dan suara-suara bahwa anaknya tidak tewas.

Rasa penasaran itu membuat Tina mulai berani membuka kamar khusus Danny dan menemukan kata “not dead” di papan tulis anak semata wayangnya itu. "Not dead" berkali-kali dihapusnya, berlipat-lipat kali pula ia muncul dengan sendirinya. Malam berikutnya, Tina mengalami kejanggalan yang semakin kentara. Radio yang ada di rumahnya menyala sendiri. Dimatikan, menyala lagi. Bahkan, seorang petugas kebersihan yang disewanya, Vivienne Neddler (dari orang ini pula Tina mendengar tentang laboratorium rahasia di pegunungan Sierra, Nevada), mengalami hal yang lebih ekstrim ketika suatu petang dia mengalami bunyi-bunyi aneh dan guncangan ketika membersihkan apartmen itu. Figura-figura foto berjatuh. Kamarnya tiba-tiba dingin membeku, dan semua itu bersumber dari kamar Danny. Neddler berjanji tidak akan menceritakan pengalaman tidak rasional itu kepada siapapun. 

Untuk menambah kesan semakin menegangkan, Koontz bercerita tentang guncangan dan bunyi-bunyi aneh di rumah itu di bab 9—tanpa tokoh, selain suara anak kecil dari radio yang menyala sendiri dan pintu kamar mandi Danny terbuka dengan sendirinya. 

Keanehan-keanehan ini membuat Tina curiga ada seseorang yang coba masuk ke rumahnya dengan tujuan untuk mengganggu hidupnya. Siapa lagi kalau bukan mantan suaminya! Dengan bekal kecurigaan itu, Tina pergi menemui mantan suaminya di Kasino, tempat di mana Mike bekerja. Cekcok terjadi dan Tina lalu tersadar bahwa mantan suaminya tidak mungkin melakukan itu.

Pengalaman misterius ini menyeruak di tengah persiapan Tina mementaskan The Magyck!, sebuah panggung teater besar di Golden Pyramid Hotel di Las Vegas. Koontz terlihat lihai menyatukan karakter dan cerita dalam satu nuansa: suspense (ketegangan), misalnya dengan menyajikan The Magyck! (plesetan The Magic). Tina mampu mengatasi pementasan di tengah kecamuk pikiran tentang Danny yang menghantui dirinya. The Magyck! sukses dan memukau puluhan ribu mata Las Vegas!

Adalah duda Elliot Stryker, penonton yang terpukau pada Tina dan sekaligus mantan intelejen yang selalu ditugasi untuk urusan operasi senyap, menjadi partner Tina untuk mencari anaknya. Setelah dua hari berkenalan, merasa nyaman bersama, dan kemudian dipuncaki oleh getaran seks yang mengalir secara sembunyi (undercurrent of sexual tention) yang digambarkan secara halus oleh Koontz.

Kesepakatan Tina dan Elliot untuk membongkar makam Danny tidak mulus memang, dan justru bagian ini yang cukup menegangkan. Herold Kannebeck, seorang hakim terkemuka, adalah orang pertama yang dimintai tolong oleh Elliot untuk membantunya membongkar skandal penghilangan Danny. Dan Kannebeck menanggapinya secara cepat: mengirim dua pembunuh bayaran untuk menjegal Elliot. Usut punya usut, Kannebeck terlibat dalam skandal ini. Usaha mereka berdua untuk menemukan misteri Danny berbarengan dengan kejaran para pembunuh dari elite pemerintahan dan mafia di balik proyek intelejen Amerika bernama Pandora Project, sebuah lembaga rahasia milik CIA yang dibangun untuk mengimbangi perang senjata melawan Uni Soviet dan kemudian dipakai dalam operasi Perang Dingin.

Di tengah usaha pergi dari Vegas ke pegunungan Sierra, Elliot menyusun strategi untuk mempublikasikan skandal ini kepada media, dan tiba-tiba saya ingat novel All the President's Men karya Bob Woodward dan Carl Bernstein. Tapi saya kecewa, karena Koontz memilih jalan pintas yang melemahkan novel ini sekaligus: yaitu dunia supranatural! Tina mulai membangun telepati dengan Danny yang dipercaya mempunyai kemampuan psychic, semacam cenayang, dengan mendengar suara-suara lewat pikiran dan mimpinya, hingga meminta bantuan Billy Sandstone untuk menghipnotis dirinya dan meminjam Jeep miliknya. Jeep ini digambarkan mampu menerobos badai salju di lereng gunung dan dengan penggambaran yang dramatis dipandu oleh telepati dari Danny, mereka akhirnya masuk ke daerah terlarang di mana Danny dijaga dengan sistem yang ketat.

Sayangnya, sebelum mereka berdua sampai ke sebuah “penjara” di atas gunung bersalju itu, Koontz sudah membiarkan pembaca tahu bahwa Danny ada di sebuah tempat yang dikontrol dengan komputer oleh ahli virologi dan dokter, Dombey dan Zachariah.

Di tempat ini, di sebuah lereng gunung, situs rahasia dibangun dan Danny memang tidak mati dalam kecelakaan karena salju, seperti yang dikabarkan media. Dia dikebiri di sebuah ruangan. Ruang isolasi di sini digambarkan sangat ketat, dilengkapi alarm dan terstruktur dengan mekanisme layaknya sebuah laboratorium. Danny diisolasi karena tubuhnya terinfeksi virus!

Kemunculan "Wuhan-400" adalah klimaks dalam novel ini. Diceritakan bahwa sekitar 20 bulan sebelumnya ada ilmuwan China bernama Li Chen datang ke Amerika Serikat dengan membawa sebuah disket yang berisi data rahasia China berupa senjata biologis baru yang berbahaya dalam dekade terakhir. Dokumen itu bernama “Wuhan-400”, dikembangkan di lab RDNA di luar kota Wuhan. Para ilmuwan di tempat itu mulai bekerja mempelajari virus tersebut, termasuk meneliti hama sebagai alternatif penanganan dimana China telah mengabaikannya. Rencana mereka ini akhirnya mengalami kecerobohan yang dibuat oleh salah satu ilmuwan mereka bernama Larry Bellinger yang terkontaminasi saat bekerja sendiri di pagi hari. Karena panik, Bellinger berlari ke kehidupan bebas dan lupa menyalakan alarm.

Di tengah keramaian tempat olahraga salju, virus itu menyebar ke Bapak Jaborski, pemimpin kamping dan menjagkiti anak-anak kecil termasuk Danny. Ajaibnya, mereka semua tewas dan tinggal Danny seorang yang mampu bertahan dengan virus itu. Tubuh Danny mampu memproduksi imunitas memerangi virus yang menyerang tubuhnya.

Karena fakta itulah Danny dikarantina dan sekaligus menjadi objek penelitian dan pengembangan virus “Wuhan-400”.

Virus ini digambarkan oleh Koontz hanya diderita dan bertransfer dari manusia ke manusia, tidak bisa bertahan di luar tubuh manusia lebih dari semenit, inkubasinya hanya empat jam, dan akan membunuh maksimal dalam 24 jam. Rata-rata membunuh dalam 12 jam!

Sebuah kisah yang mengerikan tentang virus bernama “Wuhan-400”, yang oleh Elliot dianggap sebagai cara murah bagi China untuk membersihkan satu populasi sebuah kota atau negara sebelum diambil alih.

Virus dari 'Wuhan-400' ini lebih membayakan daripada Ebola di Afrika.

Nama Wuhan dilaporkan oleh banyak pihak muncul setelah edisi tahun 1989, dLlmana dalam edisi sebelumnya ditulis “Gorki-400”, yang artinya adalah situs bertempat di Rusia. Perubahan dari Gorki ke Wuhan ditengarai karena Perang Dingin sudah usai, tetapi penulisnya sendiri belum muncul memberikan komentar.

Lepas dari itu semua, bagi saya, dipilihnya nama Wuhan oleh Koontz bukan tidak beralasan karena Wuhan sendiri mempunyai pusat virologi yang dikenal dengan The Wuhan Institute of Virology yang dibangun tahun 1956. Situs ini, seperti situs-situs serupa yang lain di dunia, bisa menjadi lahan imajiner bagi para penulis sastra, dan khususnya fiksi ilmiah. Selain itu, tentu saja karena adanya muatan ideologis penulisnya yang melihat China sebagai ancaman bagi Amerika setelah Perang Dingin berakhir.

Novel ini bukanlah sebuah prediksi, alih-alih dipakai sebagai teori konspirasi, tentang wabah Covid-19 yang merebak sejak akhir 2019 kemarin di Wuhan dan kemudian menjadi bencana bagi kemanusiaan di seluruh dunia.

Perlu dicatat, novel ini tidak menyebut tahun 2020 seperti teks yang tersebar dalam gambar di media sosial. Deskripsi tentang virus dalam novel ini juga berbeda. Misalnya, jika kita mau berjudi mengikuti kekuatan spekulasi novel ini (semoga Allah melindungi kita dari mara bahaya), siapa tahu virus ganas yang dimaksud belum benar-benar lahir dari daerah ini (?). Di sinilah kekuatan fiksi ilmiah: spekulasi!

Penyebutan nama Wuhan tak lebih dari kekuatan imajinatif seorang Koontz, sebagai penulis fiksi ilmiah, yang berdasar kepada sebuah data (yang sangat mungkin karena adanya The Wuhan Institute of Virology di Wuhan sendiri). Artinya, Koontz bukan penulis yang ngasal. Dia punya dasar pengetahuan dan data-data. Fiksi ilmiah biasa mengolah data-data (bisa nyata seperti kasus Koontz atau lebih banyak dari data yang difiksikan) dengan spekulasi-spekulasi teknologi di masa depan. Untuk itu, fiksi ilmiah lebih banyak dikenal sebagai genre of speculative fiction.

Saya tidak terkejut ketika Koontz menulis dengan cara begini. Masyarakat yang tingkat literasinya tinggi—mempunyai kultur kebebasan membaca dan menulis yang baik—sangat mungkin menghasilkan penulis sastra yang cemerlang. Generasi yang lahir dalam kultur seperti itu akan mempunyai ketajaman mengelola imajinasi, punya daya gedor kreatif dan mampu menuliskannya secara baik. Sekali lagi, Koontz menulis dengan data (dan pengetahuan) seperti berpijak kepada pusat virologi yang kemudian dipakai sebagai sikap (dan ideologi) dalam proses kreatif menulis dan berpendirian—bagaimana pesan-pesan bisa tersampaikan kepada pembaca.

 

 

Penulis: Bernando J. Sudjibto adalah santri alumni PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura. Bje, akrab disapa, kini menetap di DI-Yogyakarta sambilalu berbagi wawasan dan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa/i di UIN Sunan Kalijaga. Lulus sebagai magister of sosiology di Selçuk Üniversitesi, Turki. Bersama teman-temannya ia kini menukangi Turkish Spirits.