Puisi Puisi Abdullah Mamber

Puisi Puisi Abdullah Mamber
Artistic by Amin Bashiri @artmien


Luka

Kau mushaf makna
Masih kubaca

2012


Aku Menjumpaimu

Aku menjumpaimu
Jum’at kedua bulan Sya’ban

Aku membuat nawal
Untuk kau dendangkan

Rasakan nafasku
Pada tiap huruf-hurufnya

Menembus desah langit ketujuh

2012


Kenangan 1

Kenangan adalah setitik cahaya
Berkedap kedip di langit ketujuh
Kepadamu, kepadaku

2013


Tanggal Tua Sepertiga Malam

Bila yang kau lihat
Hanya kerdip terang bintang
Di kolong langit tanggal tua sepertiga malam

Sebenarnya kau belum sepenuhnya bertuhan

2013


Hajat Munajat

Telah kugali-gali
Dengan cangkul tadabbur
Kulubang-lubangi
Dengan linggis tangis

Ladang-Mu
Kutanam benih doa

Tumbuhkanlah, Tuhan!

2014


Masih yang Dulu

Langit aku junjung
Masih langit yang dulu

Bumi aku pijak
Masih bumi yang dulu

Air aku teguk
Masih air yang dulu

Udara aku hirup
Masih udara yang dulu

Api aku pantik
Masih api yang dulu

Cahaya aku gapai
Masih cahaya yang dulu

Gelap aku sergap
Masih gelap yang dulu

Kau aku puja
Masih kau yang dulu

2015


Rumah

Aku tinggal di rumah akal
Aku berdiam di rumah hati
Aku menetap di rumah ruh

Bolak balik
Dari satu rumah ke rumah Satu
Berkelana mencari yang raib
Dari nasib takdirku

2015

 

Obituari Tembakau

Teruslah menanam tembakau
Di sawah ladang hati kami
Yang masih basah dan becek darah

2013

 

Abdullah Mamber, lahir di Banuaju Barat, Batang-Batang, Sumenep, 17 April 1983. Santri alumni Pondok Pesantren Annuqayah. Karya-karyanya dimuat di sejumlah media lokal dan antologi puisi bersama.  Sekarang Mamber tinggal di Jalan Raya Dungkek, RT/RW 002/014, Dusun Palegin, Desa Longos, Gapura, Sumenep, Madura.
email: ra_mamber@yahoo.com