Tadarus: Manusia Vs Corona

Tadarus: Manusia Vs Corona
Sumber: toonsmag

Oleh: Ahmad  Sa'ie *)

Manusia dan Corona, dua makhluk yang saat ini tengah berhadap-hadapan. Keduanya berusaha saling membasmi. Corona bila menjangkit manusia, maka manusia pun akan terancam kematian. Sebaliknya, manusia terus berusaha bagaimana menangkal serangan virus yang bernama Covid-19 ini. Bahkan, seandainya bisa, hendak segera membasminya.

Beragam cara diupayakan untuk menangkal virus asal Kota Wuhan ini. Imbauan dari pemerintah terus disampaikan secara persuasif; mulai dari memakai masker, cuci tangan pakai hand sanitizer, penyemprotan disinfektan, berjemur, physical distancing, tinggal di rumah saja, dan lain sebagainya.

Saking sigapnya pada corona, manusia terkadang sampai lupa bahwa selain serangan corona, masih banyak virus lain yang mengitarinya. Seperti virus kangker, TBC, HIV/AIDS dan virus lain sebagainya.  Virus-virus mengerikan itu luput dari perhatian karena konsentrasi mereka terpusat pada corona. Padahal virus apapun itu namanya, jelas mengancam nyawa dan keselamatan manusia. 

Corona kini seakan telah menjadi hantu gentayangan dalam benak dan pikiran manusia. Setiap kali melihat orang sakit, di benak langsung muncul anggapan: "Jangan-jangan sudah terjangkit Corona!"

Bahkan lucunya, teman-teman saya di Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS), selepas tiap liputan, setibanya di kantor sekretariat, oleh teman yang lain pasti mereka langsung disuruh semprot tangan menggunakan selang air. Sungguh, virus corona ini betul-betul telah mengkooptasi pemikiran orang-orang sekitar. Hari-hari penuh dengan rasa was-was dan khawatir: jangan-jangan, dan jangan-jangan...

Jika sebelumnya setiap kali ketemu bersalaman, saat ini sunnah bersalaman seakan sudah terhalang oleh corona--sesuatu yang bahkan berada juah di luar agama. Kalaupun terpaksa harus bersalaman, sehabis itu langsung buru-buru mencari air atau pergi ke kamar mandi untuk segera mencuci tangan. 

Kondisi ini bukan lagi menjadi sekadar cerita atau bualan, pengakuan kebanyakan orang-orang yang saya kenal mengatakan hal yang sama; perasaan waswas dan khawatir apakah kita sudah terpapar atau tidak, terus jadi hantu dalam pikiran.  

Saya sendiri harus mengakuinya. Suatu ketika seusai salat berjemaah, karena sudah terbiasa, tanpa sadar saya pun menjabat tangan seseorang yang tak kukenal di sampingku; bersalaman. Nah, saat di perjalanan pulang saya baru sadar dan teringat soal physical distancing, bahwa di tengah pandemi Covid-19 kita mesti hati-hati dan tidak melakukan kontak fisik dengan seseorang siapapun, apalagi dengan orang yang tak kita kenal.

Sontak, setibaku di rumah, saya pun langsung ke kamar mandi untuk mencuci kedua tangan dengan sabun. Sehabis cuci tangan, barulah muncul keyakinan bahwa tubuhku terbebas dari virus mematikan yang telah mendunia ini.

Lama-kelamaan benakku terketuk, bahwa jika terus-menerus pikiran ini selalu dihantui rasa kekhawatiran yang berlebihan, maka alih-alih mau terhindar dari corona, justru tubuh ini akan cenderung mengundang penyakit baru. Yaitu, penyakit stres atau gangguan secara psikologis.

Nah, ketika persoalan psikologis yang terserang, bukankah dampaknya akan jauh lebih buruk? Sebab menurutku, pikiran buruk atau negatif itu pasti akan memicu potensi situasi dan kondisi yang juga tidak normal.

Ketika pikiran dan situasi di sekeliling sudah dalam keadaan tidak normal, maka pada gilirannya manusia akan rawan berbuat dan bersikap yang tidak semestinya.

Demikian, setidaknya keadaan ini dapat mengajak kita sebagai makhluk yang berakal untuk sejenak hikmat, introspeksi diri, bahwa manusia merupakan makhluk lemah sekaligus sebagai ciptaanNya yang paling mulia; lebih mulia dari mahkluk lainnya.

Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari struktur rohani dan jasmani. Saatnya kita memupuk dan menajamkan keyakinan bahwa kita mampu untuk mengalahkan corona, makhluk kecil yang tak kasat mata itu. Salah satunya adalah dengan cara menyeimbangkan kebutuhan jasmani yaitu sehat badan, dan kebutuhan rohani yaitu kesehatan batin; yakni, selalu berusaha berpikir positif dalam situasi dan kondisi apapun. Insya Allah, kita semua yakin mampu untuk terus mengarungi hidup melewati masa pendemi Covid-19 ini dengan tenang dan aman. Semoga.

Akhirul kalam wa ghayatur roja': Inâyatullah Ta'ala. Salam..

 

*) Penulis adalah Ketua Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS) Masa Bhakti 2020-2022